Selamat Datang dan Enjoy Reading.. Dimohon Untuk Tinggalkan Komentar Kalian Yah.. Thanks

Sabtu, 12 November 2011

Cerpen : Cerita Cinta


Bagi banyak orang, mungkin motorku sudah layak untuk segera dimusiumkan. Namun aku berpendapat lain. Terlalu banyak kenangan yang aku punyai dengan motor ini. Berderet-deret peristiwa dan kejadian yang telah kulalui dengan motor butut ini. Motor ini pernah sangat berjasa mengantarku ke sekolah tiap hari di tiap pagi sewaktu masih SMA dulu, mulai dari kelas satu hingga akhirnya aku lulus. Motor yang setia mendengar keluh kesahku dikala aku sedang gelisah, menemaniku menghabiskan malam sambil duduk merenung di sudut remang kota. Motor yang mengajarkan padaku, bahwa ternyata hidup prihatin itu bisa pula dinikmati.

Namun dibalik semua kisah itu, motor inilah yang mengajarkan padaku, bahwa memang masih ada perempuan yang tak menilai laki-laki hanya dari materi semata. Mengajarkan bahwa kesetiaan dan menerima apa adanya ternyata masih bisa ditemui di tengah dunia yang makin materialis dan penuh perhitungan untung-rugi.

Aku mengenal Marieta ketika aku memasuki kuliah semester dua. Kami memang satu angkatan. Namun aku termasuk laki-laki yang sulit untuk bisa bergaul cair dengan teman lawan jenis. Sehingga tak mengherankan, aku baru bisa banyak kenal dengan teman perempuan ketika sudah menginjak semester dua, Marieta adalah satu diantaranya.

Sebenarnya semuanya bermula biasa saja. Aku mulai dekat dengan Marieta ketika aku sering meminjam catatan kuliahnya. Maklum saja, aku termasuk mahasiswa yang rajin sekaligus pemalas. Rajin membolos dan kalau toh pun masuk kuliah, aku sangat malas mencatat. Mengapa aku suka meminjam catatan Marieta pun sebenarnya sederhana saja. Dia termasuk mahasiswa yang sangat jarang membolos, catatannya sangat lengkap dan tulisannya mudah dibaca. Untungnya pada semester dua itu, semua mata kuliah yang aku ambil, Marieta juga mengambilnya. Walaupun ada sedikit perbedaan antara mata kuliah yang dia ambil dengan yang aku ambil. Tentunya mata kuliah yang dia ambil lebih banyak daripada yang aku ambil. Sebuah hal lumrah bagi seorang mahasiswa seperti aku.

Akhirnya tanpa sadar, seringkali pula aku mengembalikan catatan sampai harus pergi ke kosnya. Memberikan catatan, dilanjutkan dengan ngobrol sebentar, lalu pulang. Satu dua kali tak mengapa, tak terasa ada perbedaan. Semuanya biasa saja. Namun lama kelamaan, kebiasaan ngobrol setelah mengembalikan catatan seringkali dilanjutkan dengan makan bersama. Terkadang makan di warung sebelah kosnya, namun lebih sering makan masakannya sendiri. Bagi lidahku masakannya termasuk enak, tak kalah dengan masakan warung sebelah kosnya.

Mungkin benar kata orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina. Datangnya cinta karena pertemuan yang sering dan berlangsung lama. Sejak sering ngobrol, makan bersama, kami pun lama-kelamaan suka saling curhat. Dari saling curhat itulah aku mulai merasa bergantung kepadanya, merasa membutuhkannya, merasa nyaman didekatnya dan ingin selalu ada di dekatnya. Ada satu hal yang berubah semenjak aku dekat dengan Marieta, aku jadi jarang bolos kuliah lagi. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Bisa jadi akibat dari aku, dengan terpaksa namun bahagia, sering mengantar dan menjemputnya ketika pergi kuliah.

Pada pertengahan semester tiga pun kami mulai jadian. Pertama jadian, sebenarnya aku merasa kurang percaya diri. Maklum saja, seminggu setelah jadian aku baru mengetahui kalau dia ternyata anak seorang pengusaha sukses. Jauh berbeda dengan aku yang anak pegawai biasa, yang bisa kuliah dengan nyambi jaga warnet kepunyaan pakdhe. Lumayanlah, untuk bisa membayar SPP tiap semester dan sekedar jajan. Aku kira dia anak orang biasa seperti aku. Kos-kosannya biasa saja, tidak terlalu banyak fasilitas yang tersedia. Membuat tugas kuliah juga di rental komputer. Seringkali pula dia lebih suka memasak sendiri daripada membeli makanan di warung. Dia juga suka memcuci bajunya sendiri daripada menyerahkannya ke laundry atau tukang cuci. Bukan karena tidak punya uang, tetapi katanya biar dia bisa belajar mandiri.

Aku baru mengetahui semuanya ketika salah seorang teman kosnya bercerita padaku. Meskipun teman kosnya pernah berjanji pada Marieta tidak akan pernah bercerita tentang latar belakang keluarganya pada siapapun. Hingga akhirnya setelah sebulan kita jadian, aku memberanikan diri bertanya padanya. Apakah dia tidak merasa malu, punya pacar anak orang biasa-biasa saja, hanya punya sebuah motor lawas, tidak ber-HP, di kampus nggak pintar-pintar amat dan punya wajah yang berada di bawah standar pasar. Sedangkan dia anak orang kaya, cakep, rajin, pintar lagi. Belum lagi masih banyak teman-teman kampus lain yang lebih kaya dan cakep dariku yang juga menaruh hati padanya. Mengapa dia lebih memilih aku daripada mereka. Namun apa jawaban yang aku dapat. Sambil memegang kedua tanganku dia berujar, “Ternyata kamu sudah tahu ya kalau ternyata aku anak orang… Hmm, namun bagiku ketulusanmu, kejujuranmu, kemauanmu untuk terus maju dan berubah serta perhatianmu sudah merupakan lebih dari cukup bagiku.” Sebuah jawaban yang sanggup menenangkan hatiku.

Satu hal yang paling aku sukai dari Marieta, dia sangat menghargai rasa sayangku terhadap motor bututku. Dia menyadari bahwa sudah terlalu banyak kenangan yang pernah aku lalui dengan motorku itu. Dia pun tak pernah keberatan aku antarkan kemanapun dengan motor itu. Pernah dia berujar, “Tahukah kenapa aku sangat suka naik motormu ini, Mas?” Sebelum aku sempat menjawab dia menimpali, “Dengan naik motor ini, waktu kita berduaan semakin lama. Karena motor ini nggak bisa ngebut. Satu lagi yang aku sukai dari motormu, pastinya nggak ada cewek selain aku yang mau kamu bonceng dengan motormu ini.”

Sebuah jawaban yang sempat membuat aku sewot dengannya seharian. Namun sebelum sewot hari itu berubah menjadi kejengkelan, sambil menyuguhi aku segelas kopi panas dia berujar, “Tadi cuman guyonan kok, Mas. Jangan marah ya. Sebetulnya, dengan motor itu, aku menemukan sebuah sosok yang sederhana dan mau terbuka dengan orang lain tentang keadaanmu yang sebenarnya. Itulah yang membuatku tertarik padamu. Kamu mempunyai kepribadian yang kuat.”

Motor butut dan Marieta mengajarkanku banyak hal. Tentang makna-makna yang tersembunyi di balik simbol-simbol. Yang mungkin jarang kita tangkap, kita mengerti dan kita pahami.

Semua orang di kampus sudah mengetahui tentang hubungan kita. Walaupun terkadang mereka juga tidak percaya sepenuhnya. Mungkin karena ketika di kampus, kita sangat jarang terlihat berduaan. Memang sewaktu berangkat dan pulang kita berboncengan dengan motor bututku. Namun setelah itu, entah aku ke utara dan dia ke selatan, itu adalah hak masing-masing. Baru nanti pada jam yang telah disepakati sebelumnya kita bertemu di bawah pohon beringin di parkiran.

Namun itu pun juga berangsung hanya sampai pertengahan semester lima. Pada semester lima kami sering berbeda jadwal, apalagi sekarang pakdhe membuka warnet baru dan aku diminta untuk mengelolanya. Sedangkan Marieta makin hari juga makin larut dengan aktifitasnya di lembaga pers mahasiswa di fakultas. Semua itu memunculkan konsekuensi, kami mulai jarang bertemu. Yang biasanya kami tiap hari bertemu, sekarang berangsur berkurang menjadi tiga hari sekali. Untungnya kami bisa saling belajar untuk saling memahami kondisi masing-masing. Pernah pula pada suatu waktu, kami tak bertemu selama seminggu dan ketika aku telpon dia di kos. Dia menjawab dengan nada sewot, padahal pada saat yang sama aku harus segera ke warnet. Karena ada beberapa komputer yang bermasalah. Terpaksa, hari itu aku mengajaknya berkencan di warnet baru pakdhe. Sekali dayung dua pulau terlampaui.

Sejalan dengan waktu tak terasa hubungan kami sudah berlangsung selama tiga tahun. Bagiku hubungan antara aku dan Marieta cukup menarik. Latar belakang yang berbeda membuat kami harus saling berkerja keras untuk bisa saling memahami. Tak jarang pula salah paham terjadi. Mulai dari hal-hal yang kecil dan remeh sampai hal-hal yang prinsipil. Walaupun akhirnya bisa diatasi dengan berdiskusi dan saling instropeksi.

Untaian waktupun akhirnya memaksa kita untuk harus segera menyelesaikan kuliah. Untunglah segalanya berjalan lancar, walaupun seringkali aku tak bisa mengantarkannya ketika harus berburu buku atau data-data skripsi. Ternyata ada hikmah dari kondisi kami yang jarang saling bertemu. Kami mulai mengurangi ketergantungan satu sama lain.

Walaupun kami menyelesaikan skripsi tidak bersamaan, namun kami memutuskan untuk wisuda bersama. Pada waktu itu akulah yang bisa menyelesaikan skripsi terlebih dahulu. Baru enam bulan kemudian, Marieta menyelesaikan skripsinya. Kami berharap dengan momen wisuda besok, kami bisa mempertemukan kedua keluarga kami. Kami berdua ingin bahwa hubungan yang telah lama terjalin ini terus berlanjut ke tahapan yang lebih serius.

Seiring berjalannya sang waktu, akupun sekarang ada di sini. Di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Yogyakarta. Sedang menikmati indahnya minggu pagi sambil mengelus-elus motor lawas kesayanganku yang sudah tak butut lagi. Sedangkan Marieta dan anak kami yang sudah menginjak usia tiga tahun sedang bermain di halaman belakang. Memang, kami akhirnya menikah dan berkeluarga. Aku sekarang bekerja dengan membuka toko komputer di bilangan pusat kota, sedangkan Marieta membuka tempat penitipan anak dan play group di rumah sebelah.


(Sumber : burahol.com)

Adv