Selamat Datang dan Enjoy Reading.. Dimohon Untuk Tinggalkan Komentar Kalian Yah.. Thanks

Selasa, 01 November 2011

Cerpen : Tanpamu Dunia Masih Berputar Part 2

Mara mencoba untuk berpikir positif, tapi dalam hati kecilnya ia merasa yakin kalau ada sesuatu dengan Ridho. 

“Mungkinkah dia telah menduakan cintaku?” batin Mara.

Karena Ridho tidak bisa pulang, akhirnya Mara datang bersama Sasa dan Ratih. Tapi sesampainya disana, Mara heran bukan main karena melihat Ridho telah duduk bergerombol dengan teman-temannya.
“Mara, bukankah itu Ridho? Katamu dia nggak bisa datang tapi kok bisa ada disini?” tanya Sasa bingung.
Tak cuma Sasa dan Ratih, Mara jauh lebih bingung dibuatnya. Mara tidak habis pikir, kenapa Ridho pulang tapi tidak memberi tahu dia terlebih dahulu?
“Aku … aku … aku juga nggak tahu, Sa. Aku nggak tahu kalau Ridho bakal datang ke pestanya Rima,” jawab Mara terbata.
“Loh …? Kamu gebetannya, kan? Emang Ridho nggak ngasih tahu kamu sebelumnya?” tanya Ratih.
“Nggak. Dia malah bilang kalau nggak bisa datang karena dia masih ada satu pertandingan lagi di Bandung,” jawab Mara kemudian.
“Rima kan mantannya Ridho, jadi mana mungkin Ridho melewatkan hari spesial ini,” celetuk Sasa.
Ratih segera mencubit lengan Sasa, karena dilihatnya raut muka Mara yang merah. Mungkin marah.
Segera Mara menghampiri Ridho yang tengah asyik ngobrol dengan teman-temannya.
“Ridho, udah lama disini?” sapa Mara dingin.
Ridho kaget dengan sapaan Mara. Baru kali ini Ridho lihat wajah dingin Mara. Selama ini Mara nggak pernah marah, sekalipun Ridho sering ngeselin dan ngecewain hati Mara. Tapi kali ini …? 
“Nggak terlalu,” jawab Ridho singkat, kemudian berpaling ke arah teman-temannya. “Ron, Zal, aku tinggal sebentar ya?” kata Ridho pamitan sama Rony dan Rizal.
“Jangan lama-lama, Dho!” Seru Rony
Ridho mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Ridho beranjak dari duduknya lalu mengajak Mara keluar dari kerumunan pesta itu. Mereka duduk di beranda depan rumah Rima. Keduanya hanya diam membisu, hanya desahan napas sesekali keluar dari bibir mereka.
“Apa kabar, Ra?” tanya Ridho memulai percakapan mereka.


“Apa kabar? Apa aku nggak salah dengar? Kata itu menjadi terasa asing di telingaku. Sepertinya kami memang benar-benar telah jauh.” Batin Mara sedih.

“Baik,” jawab Mara singkat.

Sesaat kembali mereka terdiam kembali.
“Maafin aku Ra, nggak ngasih kabar ke kamu terlebih dahulu kalau aku pulang hari ini.” Kembali Ridho memecah keheningan. “Ada hal penting yang mau aku omongin ke kamu,” lanjutnya.
Mara masih membisu. Matanya memandang kosong ke depan.
“Mara, kamu harus dengerin aku dulu. Aku nggak mau nyakitin kamu …”
Mara terhenyak. “Apa maksudmu?”
“Aku ingin kita jalan sendiri-sendiri aja.”
“Kamu pengin kita bubaran?” tanya Mara dengan mata melotot.
“Ya.”
“Kenapa? Apa salahku, Dho?”
“Kamu nggak salah, Ra … Kamu manis, baik, pintar. Siapa sih yang nggak pengin dekat ama kamu. Tapi akan lebih baik jika aku menjadi sahabat terdekat kamu. Aku nggak akan pernah bisa mencintai kamu seutuhnya. Lagian waktuku udah habis.”
“Waktu? Waktu apa? Aku makin nggak ngerti, Dho?”
“Selama ini aku telah membohongi kamu, Ra. Sebenarnya aku dan Rima belum pernah ada kata putus. Kami cuma break, introspeksi diri. Dan di sela waktuku itu, kamu datang dengan segala pesona. Nggak bisa aku pungkiri kalau aku tertarik sama kamu, aku sayang kamu tapi … kamu tau, Ra … Rima saat ini lebih membutuhkan aku. Aku akhirnya tau, ia amat sangat membutuhkan aku. Mamanya membujukku agar aku selalu menemani dan menjaganya.”
“Dan aku …?” potong Mara cepat. Tapi ia menelan kembali kata-katanya: “Bukankah aku juga membutuhkan kamu?”
“Maafkan aku, Ra …” Ridho sambil tertunduk.
Tanpa menunggu kalimat selanjutnya dari Ridho, Mara segera berlari dengan isak tangis dan kekecewaan yang sangat dalam. Ridho berusaha mengejarnya hingga ke tepi jalan, tapi Mara telah menghentikan sebuah taksi dan kemudian berlalu.
Sasa dan Ratih yang dari tadi celingukan mencari Mara ketemu dengan Ridho yang tengah duduk termangu di beranda depan.


“Dho, kamu lihat Mara nggak?” tanya Sasa.

“Mara udah pulang, Sa,” jawab Ridho singkat.

“Sendiri? Dan kamu nggak nganterin? Tega lo, Dho!” Seru Ratih kemudian.
“Kalian bertengkar? Kamu nyakitin hati Mara? Kamu ngecewain Mara!” Cecar Sasa nggak mau kalah.
“Tunggu! Aku nggak bermaksud demikian! Kalian nggak bakalan ngerti! Apa pun yang kalian pikirkan tentang aku, tolong sampaikan maafku sama Mara,” ucap Ridho dengan lesu kemudian berlalu meninggalkan Sasa dan Ratih yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
SESAMPAINYA di sekolah, Mara telah diberondong berbagai pertanyaan oleh sahabat dekatnya, Sasa dan Ratih. Mereka mencemaskan keadaan Mara karena sejak kejadian di pesta ulang tahun Rima di akhir pekan kemarin, ponselnya sulit dihubungi. Mereka tahu, tanpa Mara cerita pun, pasti ada masalah berat.
“Ra, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Sasa hati-hati.
“Kita udah tahu kok masalahnya. Kemarin Ridho nitip maaf buat kamu. Sori kalau aku ikut campur, kayaknya Ridho nyesel banget. Sebenarnya dia nggak ngebayangin semua akan seperti ini.”
Namun Mara tersenyum tipis pada mereka. Lalu bersenandung lirih:


Ternyata tanpamu langit masih biru
Ternyata tanpamu bunga pun tak layu
Ternyata dunia ini tak berhenti berputar
Walau kau bukan milikku …

“Nggak apa-apa kok. Kalian nggak perlu khawatir begitu. Aku berterimakasih banget kalian udah mau care sama aku. Kalian memang sahabat terbaikku. Bukankah hidup ini indah jika kita tahu cara mengisinya?” Mara memegang tangan Sasa dan Ratih dengan erat.
“Nah begitu dong Ra, karena masih banyak pilihan menantimu!” Celetuk Sasa kemudian.
“Soktoy loh!” 
“Apaan tuh?” tanya Sasa dan Ratih hampir bersamaan.
“Sok tahu loh …!” jawab Mara.
Ketiganya lalu tersenyum dan tertawa tergelak. Terasa tanpa beban, dan kejadian kemarin telah terlupakan. Bel tanda masuk sekolah berbunyi, mereka bertiga bergegas menuju kelas mereka dengan ceria. Sasa dan Ratih tak tahu bahwa di dada Mara, perih dan pedih itu masih ada dan entah sampai kapan akan benar-benar sirna.


-SELESAI-

3D Wooden Metal Released - Theme For Windows 7


Ini salah satu tema buat Windows 7 bergaya kayu yang klasik... silahkan.... ^^



3DWoodenMetal Released - Theme For Windows 7
3DWoodenMetal Released - Theme For Windows 7
OS : Windows 7 | 5.61 MB


Download:
http://www.filesonic.com/file/2843317865/3d.wood.rar
http://www.wupload.com/file/1772329311/3d.wood.rar

Adv