Selamat Datang dan Enjoy Reading.. Dimohon Untuk Tinggalkan Komentar Kalian Yah.. Thanks

Minggu, 06 November 2011

Profil Dari Setiap Anggota JKT48!!! Cekidoott....


Ini dia profilnya JKT48 yuk kita lihat...... ^^

Allisa
Real Name: Allisa Astri
Born: June 23, 1990
Blood: O
Height: 160cm
-
Mova
Real Name: Allisa Gallimova
Born: August 28, 1993
Blood: O
Height: 162cm
-
Ayana
Real Name: Ayana Shahab
Born: June 3, 1997
Blood: O
Height: 156cm
-
Beby
Real Name: Beby Chaesara Anadila
Born: March 18, 1998
Blood: B
Height: 160cm
-
Cindy
Real Name: Cindy Gulla
Born: May 29, 1997
Blood: O
Height: 157cm
-
Cleo
Real Name: Cleopatra
Born: December 20, 1993
Blood: O
Height: 170cm
-
Delima
Real Name: Delima Rizky
Born: October 25, 1997
Blood: B
Height: 159cm
-
Devi
Real Name: Devi Kinal Putri
Born: January 2, 1996
Blood: A
Height: 162cm
-
Diasta
Real Name: Diasta Priswarini
Born: September 9, 1991
Blood: O
Height: 165cm
-
Fahira
Born: July 27, 1998
Blood: B
Height: 165cm
-
Frieska
Real Name: Frieska Anastasia Laksani
Born: March 4, 1996
Blood: O
Height: 160cm
-
Gaby
Real Name: Gabriela Margareth Warouw
Born: April 11, 1998
Blood: O
Height: 163cm
-
Gaya
Real Name: Siti Gayatri
Born: March 1993
Blood: O
Height: 163cm
-
Ghaida
Real Name: Ghaida Farisya
Born: May 29, 1995
Blood: B
Height: 163cm
-
Intan
Real Name: Intania Pratama Ilham
Born: July 19, 1991
Blood: -
Height: 166cm
-
Jessica
Real Name: Jessica Vania Widjaja
Born: January 22, 1996
Blood: O
Height: 156cm
-
Jessica
Real Name: Jessica Veranda Hardja
Born: August 19, 1993
Blood: O
Height: 168cm
-
Melody
Real Name: Melody Nurramdhani Laksani
Born: March 24, 1992
Blood: O
Height: 168cm
-
Nabila
Real Name: Nabilah Ratna Ayu Azalia
Born: November 11, 1999
Blood: B
Height: 152cm
-
Neneng
Real Name: Neneng Rosediana
Born: January 24, 1999
Blood: O
Height: 162cm
-
Rena
Real Name: Rena Nozawa
Born: may 6, 1998
Blood: B
Height: 167cm
-
Dhike
Real Name: Rezky Wiranti Dhike
Born: November 22, 1995
Blood: B
Height: 157cm
-
Rica
Real Name: Rica Leyona
Born: August 19, 1991
Blood: O
Height: 158cm
-
Sendy
Real Name: Sendy Ariani
Born: August 12, 1993
Blood: A
Height: 157cm
-
Shania
Real Name: Shania Juniantha
Born: June 27, 1998
Blood: B
Height: 165cm
-
Sonia
Real Name: Sonia Natalia
Born: December 17, 1997
Blood: O
Height: 153cm
-
Sonya
Real Name: Sonya Pandarwaman
Born: may 18, 1996
Blood: A
Height: 156cm
-
Stella
Real Name: Stella Cornelia
Born: November 3, 1994
Blood: O
Height: 160cm

Anime baru dari Minami-ke



Berdasarkan dari CD character song di manga volume ke-9, project baru dari anime Minami-ke akan segera dibuat. Berita ini dibuat oleh anggota seiyuu dalam CD tersebut. Untuk saat ini masih belum pasti format apa yang akan dibuat dalam anime ini (OVA, movie, atau season baru).

(Sumber : Moetron)

Cerpen : Mawar Di Tiang Gantungan Part 2


Aku ingat betul malam itu ia terlihat lebih sedih dan gelisah. Barangkali ia pun merasakan firasat itu, tetapi tetap bersikeras tak mempercayainya. Hujan yang biru pekat membuat jalanan menggigil, dan angin yang buruk seperti kaleng rombeng yang bergerompyangan menabrak-nabrak dinding. Lepas 3 dini hari. Sebagian pelacur telah pergi. Ia berteduh di trotoar, rambutnya basah tertempias hujan. Di pojokan toko, aku rebahan di tumpukan kardus memandangi bayangan takdir paling getir. Aku seperti mendengar lecut petir, ketika kulihat beberapa pelacur bergegas menyingkir. Mobil patroli yang mendadak muncul membuat semuanya kocar-kacir. Ia pun hendak lari. Tetapi para petugas sudah mengepungnya. Aku bisa melihat lelehan sisa arak di mulut petugas-petugas itu. Aku tahu mereka barusan menenggak berbotol-botol arak sebelum sampai ke sini. Arak yang memadamkan sepi dan membangkitkan birahi. Itulah sebabnya mereka menjadi lebih beringas dari biasanya. Aku melihat aroma pekat kecoklatan napas mereka ketika menyeringai tertawa. Mungkin saat itu aku berteriak. Mungkin tidak. Semuanya berlangsung begitu cepat. Seorang memukulku yang mencoba menolong Mawar. Aku bahkan nyaris dicekiknya, tapi petugas yang lain segera berteriak, ”Biarkan! Dia cuma perempuan buta itu!”
Dan inilah yang kusaksikan malam itu:
Mereka menyeret Mawar yang terus meronta. Melemparkannya ke mobil patroli. Membawanya pergi kemudian menyekapnya di gudang. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Begitu nyata dalam penglihatanku. Wajah Mawar pucat, bibirnya bengkak kena pukul, seekor cicak kaget menyelusup ke celah dinding, ketika Mawar menjerit. Mereka menyumpal mulutnya. Memelorotkan pakaiannya dengan paksa, kemudian bergiliran memperkosanya. Sunyi yang paling hitam membenamkan penglihatanku yang penuh kepedihan. Isak tangis muram menyelubungi gudang itu, bercampur erang yang terdengar bagai muncul dari binatang terluka. Lalu kusaksikan Mawar mendadak bangkit menyerang sambil menjerit panjang. Ia hantam kepala seorang pemerkosanya dengan lonjoran besi yang berhasil diraihnya. Ia mengamuk dengan buas. Dihunjamkannya berkali-kali besi itu ke tubuh yang terkapar…
Begitulah kejadiannya. Kuceritakan apa yang kusaksikan, tapi kalian tak pernah percaya pada saksi mata yang buta. Padahal bukan aku yang dusta, tapi mereka. Peristiwa pemerkosaan itu mereka tutup-tutupi dengan pembunuhan itu. Mereka bilang mereka tengah patroli seperti biasa. Mawar mereka bawa dan nasihati baik-baik ketika mendadak ia mengamuk. Rupanya ia mabok berat. Di tasnya ada beberapa butir pil dan pisau lipat—yang sengaja ditaruh petugas untuk menjebaknya. Ada bercak darah di pisau itu. Dan selanjutnya kalian tahu sebagaimana diberitakan koran-koran: dikatakan Mawar baru saja membunuh seorang pelanggan yang tak membayarnya. Bahkan petugas bisa mengembangkan bukti, ternyata dialah psikopat yang selama ini mereka cari. Ia pembunuh yang telah memotong-motong delapan korbannya. Pelacur dan pembunuh. Itu alasan yang cukup untuk menyeretnya ke tiang gantungan. Kalian seketika merasa nyaman karena pembunuh misterius itu telah tertangkap. Dan kalian makin merasa tenang karena kalian memang ingin melenyapkan maksiat dari kota. Pelacur-pelacur mesti disingkirkan. Mereka selama ini membuatmu jengah karena takut dengannya suami-suami dan anak laki-laki kalian berzina. Segala yang cabul mesti dimusnahkah, karena begitulah menurut undang-undang yang baru kalian sahkan. Maka kalian pun hanya diam ketika Mawar diarak ke alun-alun kota, dicambuk dan dirajam, kemudian digantung sebagai tontonan. Kusaksikan senja yang memar, burung gagak merah berkaokan, dan angin yang muram berkesiur pelan membuat tubuh itu terayun di tiang gantungan. Sampai malam.
Keesokan harinya kalian gempar. Mayat itu lenyap dari tiang gantungan!
Di pasar. Di kantor. Di ruang tunggu rumah sakit. Di warung dan kafe. Di pangkalan ojek. Di seluruh kota. Orang-orang ramai membicarakan. Sampai sekarang pun kalian masih terus kasuk-kusuk. Kalian kebingungan ketika anak-anak kalian bertanya. Karena bagaimanapun tidaklah mungkin mayat itu lenyap begitu saja. Siapa yang membawanya?
Baiklah, kuceritakan apa yang telah kusaksikan.
Setelah mayat itu digantung, kalian pun bubar. Sebagian kalian tertunduk, seakan ingin menghapus bayangan buruk. Tapi kalian tak ingin terus meneruh disesah kengerian karena saat itu hari Natal. Kalian mesti ke gereja. Ada yang lebih kudus untuk dirayakan. Maka malam itu aku pun menyaksikan langit kota yang dipenuhi nyanyian doa kalian. Hujan rinai turun, malam mengelabu. Aku sendirian di alun-alun itu, memandangi tubuh Mawar yang tergantung dalam bayangan cahaya murung. Kurasakan debu-debu beterbangan diembus angin yang makin jekut ketika kesepian makin membentangkan kelengangan yang menyayatkan keperihan bersama debu dan dingin yang mulai membaluri kota sementara sisa gema lonceng bagai melekat di udara yang makin menggigilkanku dalam kesedihan.
Saat itulah, ketika di gereja kalian memadahkan kidung agung Natal penuh sukacita, aku tiba-tiba melihat seseorang muncul dari ketiadaan. Ia berjalan mendekati tiang gantungan. Kalian pasti akan langsung tahu siapa dia begitu melihat wajahnya yang bersih dan indah, seperti ada cahaya mengitari kepalanya. Matanya seperti bintang bening. Senyumnya seperti anggur lembut yang seketika bisa menghapus dahaga. Rambutnya ikal dan panjang. Ia berjalan anggun, seperti seseorang yang berjalan melintasi permukaan air, meski sesekali tampak limbung karena menahan luka di lambungnya. Kulihat tangan dan kakinya berdarah. Kudengar ia berseru, seperti memanggil nama pelacur itu.
Aku begitu terkesima menyaksikannya. Langit seakan tiba-tiba benderang penuh cahaya keemasan yang cemerlang. Kulihat ia bersimpuh di bawah tiang gantungan, dan mencium lembut kaki mayat yang tergantung itu, kemudian menurunkannya. Saat itu aku melihat ribuan mawar mengapung di udara menyerbakkan harum yang megah. Kudengar kalian masih menyanyikan doa-doa dan pujian di gereja ketika laki-laki itu membawanya pergi. Seperti pengantin membopong mempelainya.
Kuceritakan ini pada kalian, tapi kalian menuduhku pendusta.

-End-

Semoga bermanfaat... ^^

Adv